Alih Fungsi Lahan di Bandung Barat Disorot, Kebun Sayur di Lereng Bukit Dinilai Picu Risiko Longsor

Alih Fungsi Lahan di Bandung Barat Disorot, Kebun Sayur di Lereng Bukit Dinilai Picu Risiko Longsor

Bandung Barat, Kabbar.my.id — Fenomena alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan sayuran di kawasan perbukitan Kabupaten Bandung Barat mendapat sorotan serius. Perubahan tutupan lahan yang masif dinilai berpotensi meningkatkan risiko bencana tanah longsor, terutama di wilayah dengan kontur lereng yang curam.

Kondisi ini semakin menjadi perhatian setelah terjadinya bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, pada awal tahun 2026. Kawasan tersebut diketahui sebelumnya didominasi vegetasi hutan, namun kini telah banyak dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian hortikultura seperti penanaman kol, kubis, hingga paprika.

Perubahan fungsi lahan ini dinilai memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas tanah. Hilangnya vegetasi pohon berkayu yang memiliki sistem perakaran kuat membuat daya ikat tanah berkurang, sehingga lebih rentan mengalami pergerakan saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan aktivitas pertanian yang cukup intensif di kawasan lereng kritis, termasuk di wilayah kaki Gunung Burangrang. Aktivitas tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memperbesar potensi terjadinya longsor.

Tanaman hortikultura seperti kol, kubis, dan kentang umumnya memiliki sistem perakaran dangkal yang tidak mampu mengikat tanah dengan kuat. Berbeda dengan pohon berkayu yang memiliki akar dalam dan menyebar luas, tanaman sayuran cenderung tidak mampu menahan tekanan air dan pergerakan tanah di lereng curam.

Selain itu, pola tanam yang dilakukan secara intensif tanpa mempertimbangkan konservasi lahan juga memperparah kondisi. Pembukaan lahan secara terus-menerus serta minimnya vegetasi penahan membuat struktur tanah menjadi lebih rapuh dan mudah tergerus.

Dari sisi lingkungan, alih fungsi lahan ini tidak hanya berdampak pada potensi longsor, tetapi juga berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem. Hilangnya hutan menyebabkan berkurangnya daya serap air, yang pada akhirnya meningkatkan risiko banjir serta kekeringan di musim kemarau.

Para ahli menilai bahwa diperlukan langkah pengendalian yang tegas serta penerapan sistem pertanian berkelanjutan di kawasan perbukitan. Penggunaan metode konservasi seperti terasering, penanaman tanaman penutup tanah, hingga reboisasi menjadi solusi yang perlu didorong secara konsisten.

Pemerintah diharapkan dapat memperkuat pengawasan terhadap alih fungsi lahan serta memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Sinergi antara pemerintah, petani, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah terjadinya bencana serupa di masa mendatang.

Dengan pengelolaan lahan yang lebih bijak dan berkelanjutan, diharapkan risiko bencana di wilayah Bandung Barat dapat diminimalkan, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi yang akan datang.